Desa Ponggok Yang Memiliki Mata Air Alami Dengan Debit Besar

Desa Ponggok berada pada wilayah kaki gunung Merapi, masyarakat sekitar mengenal ada beberapa “umbul” antara lain Umbul Ponggok debit ± 735 L/dtk. Umbul Besuki debit ± 62 L/dtk, Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler debit ± 328 L/dtk.

Potensi Air Yang Melimpah

Tidak mengherankan apabila para leluhur pendiri desa dulu memberi nama sebuah desa atau tempat didasarkan pada kondisi lingkungan lokal setempat. Umbul Sari, dari artinya adalah pusatnya mata air, air yang berlimpah.

Secara geografis Umbul Sari terletak di sebelah timur dari Gunung Merapi pada bagian dataran rendahnya. Secara morfologi Merapi masuk di area Volcanic Foot Plain (dataran kaki vulkanik) yang paling rendah dimana di area ini terdapat banyak sumber air resapan dari Gunung Merapi.

Mata air Sigedang terletak di 225 mdpl dimana tipe air tanahnya sama dengan di area Volcanic Cone (kerucut vulkanik) yang banyak mengandung mineral Ca, Na, Mg, HCO3. Tidak mengherankan pula bahwa air tanah di kawasan Sigedang diambil untuk bahan baku air perusahaan AMDK. Prediksi secara hidrologi kawasan Sigedang mempunyai potensi kandungan air milyaran liter.

Daerah recharge (isi ulang) area timur Gunung Merapi berada pada ketinggian 2600-1300 mdpl, umur dari air tanah ini tergolong muda kurang dari 50 tahun. Pemanfaatan air permukaan di kawasan Umbul Sari digunakan untuk air minum dan kebutuhan hidup warga, pengairan persawahaan, budidaya perikanan, pariwisata Desa Ponggok.

Umbul Kapilaler

Cerita Umbul Ponggok

Keberadaan Desa Ponggok sudah dikenal lebih dari 100 tahun yang lalu. Tahun 1920-an Desa Ponggok adalah kawasan industri karena terdapat Pabrik Gula Ponggok (Suikerfabriek Ponggok). Letak Pabrik Gula Ponggok tepatnya di seberang jalan raya, timur Umbul Ponggok sekarang. Pabrik-pabrik gula yang berdekatan dengan Ponggok antara lain Suikerfabriek TjokroToeloeng, Suikerfabriek Karanganom dan Suikerfabriek Delanggoe.

Pada masa itu wilayah Ponggok secara administratif merupakan wilayah Kawedanan Ponggok. Keluarga-keluarga Belanda banyak yang tinggal di Ponggok karena sebagian besar karyawan Pabrik Gula Ponggok adalah warga Belanda. Seperti administratur, manajer, juru buku, dll. Keluarga-keluarga tersebut tinggal di “Loji-loji” yang dulu rumahnya di sebelah utara Umbul Ponggok.

Sekitar tahun 1930-an karena kondisi ekonomi, sosial politik dunia sedang krisis dan masa perjuangan Indonesia membawa dampak kemunduran bagi Pabrik Gula Ponggok. Akhirnya operasional pabrik gula ditutup. Diantara peninggalan kejayaan Pabrik Gula Ponggok yang sekarang masih ada adalah Umbul Ponggok.

Dahulu Umbul Ponggok adalah mata air yang dijadikan sebuah water reservoir yang berfungsi sebagai tampungan air untuk kebutuhan operasional Pabrik Gula Ponggok dan Pabrik Gula Karanganom. Selain itu untuk pengairan perkebunan tebu di wilayah Polanharjo, Karanganom, Ceper. Setelah pabrik gula tidak beroperasional lagi, keberadaan water reservoir Ponggok masih difungsikan sebagai pengairan sawah dan perkebunan sampai sekarang.

Pengelolaan wisata air Umbul Ponggok oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Tirta Mandiri Ponggok.

Cerita Umbul Sigedang

Di kawasan wisata pedesaan Umbul Sari terdapat wahana air berupa mata air alami (umbul) yaitu Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler. Umbul Sigedang secara administratif berada di Desa Ponggok dan Umbul Kapilaler yang secara administratif berada di Desa Karanglo. Pengelolaan wisata mata air ini oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Wanua Tirta Desa Ponggok-Pokja 5 & 6 Dk. Umbulsari.

Atraksi yang ditawarkan antara lain kolam mata air untuk berenang baik anak-anak maupun dewasa. Pembagiannya adalah Umbul Sigedang dikhususkan untuk anak-anak. Dan Umbul Kapilaler dikhususkan untuk dewasa. Pembagian ini didasarkan atas kedalaman air dari masing-masing mata air yang berbeda.

Terdapat juga fasilitas pendukung yaitu stand kuliner Pawone Sigedang, toilet, mushola, gazebo dan tenda kursi untuk rest area pengunjung, tempat parkir motor & mobil. Umbul Sigedang dapat diakses dari 3 jalan baik dari arah timur, selatan maupun barat yang dilayani juga 3 loket pintu masuk.

Cerita Umbul Kapilaler

Pada masa kolonial Belanda pada tahun 1920, kolam Umbul Kapilaler dibangun sebagai penampung air atau reservoir yang airnya digunakan untuk kebutuhan pabrik gula Ceper. Untuk mengalirkan airnya dibuatlah sungai buatan dari hulu Umbul Kapilaler sampai masuk ke pabrik gula Ceper. Sungai ini sekaligus sebagai pengairan perkebunan tebu di sekitar pabrik gula Ceper.

Sungai buatan ini unik karena melewati medan yang tidak rata, ada yang melewati sawah, sungai, kampung, dll. Untuk yang melewati sungai dibuat bangunan bendungan yang didalamnya ada saluran atau terowongan air yang disebut “capillaire“. Tetapi penduduk sekitar untuk memudahkan melafalkannya menjadi kapilaler. Nah sampai sekarang kolam yang menjadi hulu sungai buatan itu dinamakan Kolam Kapilaler atau Umbul Kapilaler karena memang ada sumber mata airnya.

Umbul Sigedang dan Umbul Kapilaler dulunya dihubungkan dengan sebuah terowongan air. Tetapi terowongan air itu sekarang ditutup dan diganti dengan saluran air di permukaan yang terlihat.

Cerita Umbul Besuki

Untuk menjadi Umbul Besuki seperti yang sekarang kita lihat ternyata membutuhkan proses yang tidak mudah. Pengembangan Umbul Besuki setidaknya sudah dimulai sejak tahun 2016 lalu. Proses yang panjang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan waktu, tenaga, biaya, pemikiran demi terwujudnya wahana wisata air baru yang selaras dengan alam sekitar.

Mata air Besuki “Air Untuk Kehidupan” adalah warisan alam yang perlu senantiasa dilindungi, dijaga dan dilestarikan agar bermanfaat untuk masyarakat disekitarnya. Pengelolaan wisata mata air ini oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Wanua Tirta Desa Ponggok-Pokja 4 Dk. Kiringan.

Tertarik dengan artikel lainnya...